Duh..manjanya..

May 11, 2010 at 5:17 am Leave a comment

Manja bukanlah sifat keturunan, tetapi sebuah perilaku yang terbentuk dari pembiasaan atau pola asuh yang dilakukan orangtua. Perhatian berlebih dengan dalih kasih sayang malah bisa menjerumuskan anak menjadi manja.

Pekan pertama masuk di sekolah baru menjadi hari-hari yang tidak menyenangkan bagi Dony (6 tahun). Acara makan siang di sekolah selalu diwarnai dengan muka cemberut dan aksi mogok makan. Dia baru mau makan setelah ibu guru menyuapinya. Belum lagi dengan tingkahnya di kelas yang selalu menyuruh orang lain untuk mengambilkan tas, merautkan pensil, bahkan mengikatkan tali sepatunya. Namun tidak semua orang mau mengikuti perintahnya, sehingga dia menjadi marah. Ibu guru berusaha menenangkannya.

Namun bukannya tenang, Dony malah mengamuk sambil menangis karena keinginannya tidak dituruti. Saat dikomunikasikan dengan orang tuanya, mereka malah meminta pengertian guru terhadap perilaku Dony, anak tunggalnya. Menurut mereka, Dony terbiasa makan disuapi di rumah,  karena kalau tidak, maka dia tidak mau makan sama sekali. Ternyata sifat manja dibawanya dari rumah.

Kok Jadi Manja?
Manja bukanlah sifat keturunan, tetapi sebuah perilaku yang terbentuk dari pembiasaan atau pola asuh yang dilakukan orangtua. Saat orangtua memberikan perhatian yang berlebih dan menjadikan anak “center of the world” dengan menuruti semua permintaanya, maka dia sedang membentuk anak menjadi manja. Charles L. Thompson, Ph.D, profesor psikologi pendidikan dan konseling di University of Tennessee di Knoxville menyatakan bahwa seorang anak manja mempunyai sindrom “Aku mau, Aku mau”, dan mempunyai semboyan “Hidup menjadi tidak indah jika aku tidak mendapatkan keinginanku”.

Para orang tua bekerja  biasanya mudah menuruti permintaan anaknya sebagai penebus rasa bersalah karena telah meninggalkan mereka. Perhatian yang tidak bisa mereka berikan pada anak saat mereka bekerja, dibayar dengan menuruti semua permintaan anak. Selain itu, orangtua yang “lemah”, mudah goyah dengan rengekan maupun rayuan anak dengan dalih daripada anak rewel atau menangis, juga berperan membentuk perilaku manja anak. Para pengasuh yang selalu melayani kebutuhan anak, dari bangun tidur, mandi, berpakaian, makan, bermain, sampai tidur lagi, juga berperan menghilangkan kemandirian anak.

Mencegah Anak Menjadi Manja
Menyayangi anak bukan berarti harus menuruti semua keinginannya. Perbedaan antara memberikan perhatian dan memanjakan anak sangat tipis., Perhatian kepada anak merupakan hal yang positif, namun bisa menjadi berbahaya jika diberikan secara berlebihan, pada waktu yang salah, atau selalu dipenuhi saat itu juga. Menurut psikolog Ruth A. Peters, PhD, “Memanjakan anak itu tidak menghasilkan apapun kecuali menjadikan mereka sakit hati di kehidupan mereka nanti.” Berikut tips mencegah anak menjadi manja :

  • Ajarkan tugas-tugas kemandirian sejak dini sesuai dengan usianya. Ketrampilan hidup (life skill)  sederhana seperti makan, mandi, memakai baju, mengikat tali sepatu, menyisir, merapihkan mainan sendiri, harus mereka kuasai sesuai perkembangan usia.
  • Buatlah aturan atau jadwal sesuai usia. Anak-anak masih membutuhkan eksternal kontrol sampai dia mampu mengembangkan kontrol dan disiplin diri. Berikan jadwal harian sederhana seperti kapan dia harus bangun tidur, mandi, makan, sekolah, bermain, menonton TV, dan lain sebagainya. Sampaikan kepada anak, bahwa dia membutuhkan jadwal tersebut supaya kegiatannya teratur.
  • Mengabulkan permintaan anak berdasarkan kebutuhan dan skala prioritas. Bimbinglah anak untuk melihat mana barang-barang yang benar dibutuhkan, dan mana yang hanya keinginan sesaat karena ikut-ikutan teman.
  • Mengajarkan menunggu dan bersabar. Permintaan anak tidak harus dituruti saat itu juga. Misalnya anak meminta sepatu roda, mintalah dia menunjukkan usahanya terlebih dahulu, misalnya setelah kenaikan kelas dan menunjukkan hasil nilai yang baik (bukan berarti harus juara). Menunggu dan bersabar mengajari anak untuk terampil mengatasi frustasi suatu saat nanti.
  • Bedakan tangisannya. Orangtua harus bisa membedakan tangisan anak. Jika dia menangis karena rasa lapar, sakit, ketakutan, atau terjepit pintu, segeralah bertindak.  Namun jika rengekannya disebabkan menginginkan hal-hal yang tidak terlalu penting, maka abaikanlah. Tunggu sampai dia tenang, baru ajaklah bicara.
  • Katakan TIDAK untuk permintaan sesuatu yang tidak penting atau tidak bermanfaat. Anak akan belajar bahwa tidak semua keingingin bisa dipenuhi saat itu juga. Keputusan diambil setelah mempertimbangkan baik, buruk, manfaat dan kerugiannya.
  • Konsistensi sikap seluruh keluarga terhadap aturan. Berikan informasi aturan rumah yang jelas kepada seluruh penghuni. Mintalah kakek, nenek, om, tante maupun pembantu, untuk bersikap sama kepada anak sesuai aturan.
  • Berikan penghargaan atas sikap positifnya. Berilah pujian sebgai  penghargaan atas perilaku positifnya yang menunjukkan kemandirian, dan tidak suka merengek lagi.
  • Latihlah anak supaya pandai membuat keputusan. Karena masih kecil, orangtua bisa membantu dengan menyediakan dua atau tiga pilihan, misalnya hari ini dia mau membawa bekal roti isi keju atau strawberry, mau memakai kaos warna biru, hijau, atau coklat. Dengan diberi kesempatan memilih, maka dia berlatih membuat keputusan sendiri dan tidak selalu tergantung pada orang lain.
  • Berilah contoh yang baik. Jadilah orangtua yang mandiri, tidak gampang memberi perintah kepada orang lain termasuk pembantu untuk hal-hal kecil yang bisa dilakukan sendiri. Jika itu dilakukan, maka anak akan meniru dengan meminta layanan akan semua kebutuhannya.
  • Ajarkan untuk beramal. Ajarilah dia berbagi dengan memilih sebagian mainannya untuk disumbangkan kepada anak lain yang tidak mampu. Dengan demikian dia akan melihat bahwa dia lebih beruntung dan tidak akan merengek-rengek lagi meminta mainan baru tanpa mengenal waktu.

Ketidakhadiran orangtua menemani anak sepanjang hari, tidak berarti harus ditebus dengan memberikan perhatian yang berlebih. Berikan ruang kepada untuk terampil menyelesaikan tugas pribadi, berani mengambil keputusan, dan bersabar menghadapi masalah, supaya terbentuk pribadi yang mandiri.

sumber : parentsguide.co.id

Entry filed under: Parenting. Tags: .

Antara Manja dan Menyayangi Bakat dan Minat Anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

May 2010
M T W T F S S
« Apr   Aug »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d bloggers like this: